
Logo Telkom
Beberapa saat yang lalu saya membaca Tarbawi Edisi 212 th. 11 Syawal 1430 di salah satu artikelnya yang berjudul “Teknologi Semestinya Mendekatkan”. Artikel ini dibuat oleh Bapak Edi Santoso. Ada satu paragraf yang menarik bagi saya :
“Banyak konteks yang hilang dari silaturahmi maya. Kita bisa melihat atau mendengar teman virtual, tetapi pasti tak bisa merasakan kondisi dia yang sesungguhnya. Apakah dia seceria foto yang diposting? Serasional ungkapan-ungkapan dalam status online-nya? Terlalu banyak pesan nonverbal yang hilang dari jangkauan kita sebagai teman.”
Yup, betul sekali yang ditulis oleh penulis, kadang kita dengan mudah menelan mentah-mentah informasi yang kita ambil dari “dunia maya” terutama yang berkaitan dengan social network. Padahal informasi yang dikandung belum tentu merepresentasikan siapa orang tersebut. Kita harus sadar character yang ditampilkan dalam dunia social network hanyalah second personality dari user terkait. Jadi boleh jadi kepribadian sesunggunya di lapangan bertolak belakang dengan karakternya di dunia maya.
Para ahli di bidang sosial network masih memiliki banyak PR, salah satunya bagaimana agar konteks dari pengguna bisa digali lebih dalam. Diketemukannya teknologi seperti Location Based Services (LBS) telah membantu dalam mengekploitasi konteks dari user yang bersangkutan. Tapi saya rasa ini belumlah cukup.
Dalam artikel itu juga ditulis tentang bagaimana kisah-kisah yang dapat dilakukan dalam mengenal seseorang: salah satunya dengan melihat kamar mandi dari orang yang bersangkutan. Status social ekonomi seseorang dapat dlihat dari peralatan mandi yang dipakai (benar ga ya pendapat ini? Jadi mikir). Saya juga pernah baca artikel, kepribadian seseorang juga dapat dilihat atau direpresentasikan melalui hal-hal sederhana yang dimiliki oleh orang tersebut. Misalnya saja, kita lihat dompet teman kita. Kita bisa melihat bagaimana kepribadiannya dari isi dompet tersebut (bukan hanya jumlah uangnya tapi juga surat-surat atau apa saja yang ada di dompetnya, trik ini boleh dipraktekin hehehe).
Teringat dengan sebuah kisah shahabat yang dijamin masuk surga oleh Rosulullah SAW. Saking ingin tahunnya amalan apa yang dilakukan sehingga dijamin masuk surga, ada shahabat lain yang menyelidiki dengan cara bertamu selama 3 hari. Karena kebersamaan selama 3 hari 3 malam dapat digunakan untuk mengetahui karakter dari orang yang bersangkutan (lengkapnya http://www.alfurqon.or.id/component/content/article/64-guru/286-orang-biasa-masuk-surga ).
Pelajaran yang dapat diambil dari postingan ini adalah: jangan menilai yang empunya blog dari tulisannya atau personality-nya di social network saja: bisa jadi dia tidak se-rasional atau se-cerita atau se-se yang lainnya, tapi kenali dengan berjumpa atau undanglah dia makan bareng hehehe.. Sudah siapkah kita enabling the Internet to Change the Way We Work, Live, Play, and Learn? (comot tagline-nya Cisco).
(*)gambar diambil dari http://www.slideshare.net/edte.ch/flattening-the-world-how-to-harness-web-20-tools-to-engage-learners-inside-and-outside-the-classroom-177746
Hati dalam bahasa arab disebut qalbu, istilah Indonesianya kalbu, karena memang keadaanya yang sering berubah-ubah. Kata kolab itu mungkin juga memiliki kesamaan makna dari kata Qalbu ini. Iman seseorang itu bersemayam di hatinya.Seseorang bisa dalam keadaan iman pada pagi harinya dan berubah menjadi kafir pada sore harinya. Atau juga bisa sebaliknya, beriman pada sore harinya dan berubah menjadi kafir pada pagi hari.
Itulah inti dari salah satu kuliah subuh yang saya ikuti di Al Azhar beberapa waktu lalu. Ya Muqallibal Qulub Tsabbit Qalbi ‘ala Diinik (Wahai Yang memutarbalikkan hati, tetapkanlah hati ini berada di atas agama-Mu).
Manusia diciptakan sebagai makhluk yang aneh / unik / makhluk yang berbentuk lain (khalqan akhar). Apabila ada dua golongan makluk di dunia ini, makluk jasmani dan rohani maka manusia bukanlah berada di salah-satu golongan ini. Bukan makhluk jasmani karena memang kenyataanya manusia sangat berbeda dengan binatang (makhluk jasmani). Bukan pula makhluk rohani karena kenyataanya memang sangat berbeda dengan malaikat (makhluk rohani).
Tapi yang jelas manusia itu adalah makhluk yang sangat hina. Manusia berasal dari nutfah, suatu materi yang sangat menjijikkan dan bahkan tidak ada manfaatnya. Setelah terlahir pun, tidak ada materi yang dihasilkan manusia yang memiliki manfaat. Semua zat yang dikeluarkan manusia tidak memiliki manfaat, bahkan memilik bau busuk. Jadi sangat tidak beralasan jika kita memuliakan manusia hanya karena bentuk fisiknya semata. Ketidak-manfaatan manusia ini juga berlanjut pada saat dia mati, apapun prestasi,kekayaan atau kedudukannya didunia, jika sudah mati maka ia hanya berupa seonggok daging yang membusuk.
Tapi pada kenyataanya manusia, bisa pada suatu saat memiliki kemuliaan lebih tinggi dari pada Malaikat, dan disisi yang lain bisa suatu saat lebih hina dari binatang. Kenapa manusia bisa lebih mulia dari malaikat, yang notabene adalah makhluk yang selau taat kepada perintah Tuhan? Karena manusia diberi akal dan hawa nafsu, sehingga manusia memiliki kemampuan memilih : memilih diantara alternatif-alternatif yang ada.
Sungguh suatu hal yang tidak adil jika seseorang harus disiksa di neraka karena melakukan pengingkaran kepada Tuhannya sedangkan hanya itulah pilihannya, dia tidak memiliki kemampuan untuk memilih untuk melakukan perbuatan lain, mana yang baik dan mana yang buruk.
Begitu pula sebaliknya sungguh tidak adil pula jika seseorang masuk surga, karena dia melakukan amal salih, sedangkan perbuatan itu merupakan satu-satunya pilihan yang bisa dia kerjaakan, dalam artian tidak ada pilihan yang lain.
Kira-kira hanya ini yang bisa ditulis karena manusia ini (penulis) tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan mendapati dihadapannya pengisi kultum sudah tidak ada lagi berdiri di mimbar, dan para jamaah masjid juga berbondong-bondong keluar dari masjid. Alias tertidur pulas meskipun isi ceramah yang sungguh -sungguh menarik.
Tadi siang saya makan gado-gado, terdiri dari sayuran, telur, tempe, tahu, sambel kacang dan tentu saja lontong. Saya ‘sengaja’ memilih menu ini karena konon sayuran sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Sendok pertama, kedua, ketiga dan seterusnya sampai ke mulut dan saya telan dengan ‘sengaja’. Dengan ‘sengaja’ saya mengahancurkan makanan di mulut kemudian menelannya. Saat dikunyah ternyata makanan yang saya makan bercampur dengan air liur yang mengandung enzim ptyalin.
Kemudian makanan saya sampai lambung, entah apa yang terjadi di lambung saya, yang jelas saya tidak bisa mengendalikan proses yang terjadi di sana. Telur, tempe dan tahu yang saya makan dicerna oleh pepsin. Bagaimana tubuh saya tahu kalo telur, tempe dan tahu tadi harus di cerna oleh pepsin, padahal saya tidak memerintahkannya. Sama halnya dengan karbohidat dan lemak yang terkandung dalam makanan saya, semuanya dicerna di dalam lambung. Pada saat saya tidurpun. Makanan tadi tetap dicerna oleh tubuh saya.
Kemudian makanan yg telah melewati berbagai proses tadi lewat usus halus. Di sini dengan tidak sengaja lagi ”karena pada saat itu saya sudah selesai makan dan kembali kerja”, zat-zat makanan diserap oleh tubuh. Kemudian lewat di usus besar, konon disini juga masih terjadi penyerapan makanan.
Postingan ini sengaja saya buat untuk mengomentari ”karena saya berpikir maka saya ada” dan untuk mengingatkan saya ternyata kekuatan akal pikiran saya ini terbatas, bahkan untuk mengendalikan tubuh saya sendiri saja tidak bisa.
Kalo diterjemahkan judul tadi kira-kira “Ramadhan Bulan Berkah dan Tugas Akhir”. Detik-detik tugas akhir yang melelahakan. Tanggal 23 September Buku TA harus dikumpulin, tapi tanggal 22 dokumen TA masih dalam status revisi. Pembimbing belum menyatakan kesetujuannya sampai pukul 7 lebih dikit (habis Isya) lewat SMS.
Akhirnya Printer dinyalakan 2 buah dokumen dengan tebal masing2 91 hlm mulai diprint. Itu masih menyisakan 2 buah dokumen teknis yang saya sisakan untuk diprint di tukang print karena dokumen tersebut dipenuhi dengan gambar-gambar aneh yang tidak readable (UML).
Pukul 9.30 berbekal uang, flashdisk, jaket tebal, air mineral dan tak lupa sarung. Meluncur ke tukang cetak dokumen TA dan printing. Memilih-milih percetakan mana yang akan dipakai, supaya tidak perlu antre. Dapet salah satu yang masih kosong. Akhirnya dua buah dokumen teknis tercetak.
Pindah ke percetakan lain yang lebih dipercaya untuk penjilidan. Selesai pukul 11 lebih dikit dan besoknya bisa diambil pukul 10 pagi.
Dari sini peralatan selain uang dan flashdisk mulai terpakai, meluncur ke Salman, ikut I’tikaf. Niatnya I’tikaf padahal sampai Salman cuma baca beberapa lembar Mushaf langsung tertidur (tak lupa memakai jaket tebal dan sarung).
Pukul 2 bangun, dibangunin lebih tepatnya. Shalat. Cuma kuat empat rekaat, sudah mendekati pukul 3. Waktunya pulang, di rumah sudah ada menu sahur soalnya. Dalam perjalanan pulang di jalan ketemu dengan Bapak-bapak yang biasa memungut sampah. Mereka berada di pinggir jalan ditemani perapian. Sedang makan sahur juga rupanya (nasi bungkus). Saya sedikit menatap mereka. Tiba-tiba bapak tersebut menawari “Sahur A’”. Ya bapak-bapak tadi puasa juga rupanya.
ya Bapak-bapak tadi, sahur, dipinggir jalan, dengan menu seadanya, jam 3 pagi, dingin…makanya membuat perapian, masih menawari saya yang dirumah sudah ada menu sahur tinggal makan. Ga dingin, ditemani “Sahur Cagur” dilanjutkan dengan “Abdel dan Temon” malah.
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”. Ayat ini diulang sampai 31 tiga kali di Q.S. Ar-Rahman, dihitung pake jari tangan + kaki saja masih kurang.
Mengenal diri, inilah yang senantiasa diulang-ulang. Buku-buku manajemen diri mencantumkan kata ini. Buku-buku motivasi juga. Pelatihan pengembangan diri apalagi. Dalam wawancara kerja atau anggota organisai kata ini seringkali atau malah wajib ditanyakan untuk mengetahui seberapa jauh para calon mengenal diri mereka. Dalam buku-buku atau pelatihan kata ini sering digunakan dengan tujuan agar para pembaca atau peserta dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki untuk mencapai kesuksesan.
Apa yang biasanya dibahas? Yang menjadi inti dari ajaran “mengenal diri” biasanya adalah apa kelebihan yang kita miliki, apa kekurangan diri, kemudian bagaimana caranya untuk memanagenya. Bagaimana dengan kita mengetahui kelebihan, kita dapat memanfaatkan seoptimal mungkin potensi untuk mencapai kesuksesan. Dengan mengetahui kelemahan kita bisa memperbaiki kelemahan-kelemahan untuk menjadi lebih baik. Kerena kelemahan atau kekurangan bukanlah final state yang tidak bisa diubah. Strategi yang cocok untuk setiap pribadi juga dapat dipilih berdasarkan kapasitas diri masing-masing.
Tapi ternyata ada beberapa pertanyaan yang kurang yang semestinya juga membutuhkan jawaban mengenai pengenalan diri ini. Padahal hal inilah yang sangat esensial. Misalnya di dalam kamar tiba-tiba ada sebuah benda aneh. Pasti kita akan bertanya, benda apakah ini? Kenapa bisa sampai di dalam kamar? Siapa yang membawanya? Setelah pertanyaan ini terjawab, dan misalnya, ternyata benda yang ada di kamar tadi adalah kiriman dari planet Mars. Yang mengirimkannya adalah alien dan jawaban-jawaban lainnya, kemudian dalam benak kita timbul pertanyaan lagi. Untuk apa dia mengirim benda ini? Harus saya apakan benda ini? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mungkin muncul.
Pertanyaan-pertanyaan diatas harusnya muncul untuk mengenali sesuatu, termasuk untuk mengenali diri kita. Pertanyaan mengenai siapa kita, siapa yang menciptakan kita, mengapa kita diciptakan, apa tujuan kita diciptakan, karena kita hidup, maka jika kita mati akan kembali kemana. Pertanyaan-pertanyaan ini juga sama bobotnya atau bahkan lebih mendasar untuk dijawab. Lalu apakah tidak lebih baik jika kita mulai mempersiapkan sehingga pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan lebih mudah dijawab atau malah pertanyaan ini tidak perlu dijawab sama sekali karena tidak penting atau malah tidak ada jawabannya?
Berawal dari kuliah KPB, salah satu kuliah wajib IF dari Teknik Industri. Dua kali kuliah dosen pengajar tampak menyenangkan, namanya Pak Joko Siswanto. Pengalaman hidup yang beliau ceritakan memancing saya untuk mengetik frase “Joko Siswanto” di textbox nya google.
Dapet beberapa halaman yang isinya tentang Pak Joko. Satu persatu saya periksa dan dapetlah dokumen blog dari seorang peserta mata kuliah ini karena ada kata informatics engeneering. Aku periksa. weleh-weleh ternyata isinya jauh dari kenyataan.
Tapi ngomong-ngomong, sekali lagi saya akui google memang hebat. Blog posted 10:51 PM dan belum nyampe jam 11.30 PM google udah mengindex postingan tersebut.
Akhirnya postingan tersebut menjadi sangat terkenal. Mirip Java vs .NET ato Windows vs Linux atao Om Roy vs non-Om Roy atao Juventus vs Intermilan atao posting panas lainnnya.
Biar tidak semakin terkenal postingan tersebut sengaja tidak saya link.
Pengalaman menggelikan waktu ngambil Kartu Studi Mahasiswa di Aula Timur ITB. Seperti semester-semester sebelumnya, sebagai sarat untuk mengambil KSM mahasiswa diharuskan membawa foto 3×4, KSM lama dan tentu saja Form Rencana Studi telah disetujui dosen wali.
Ada sekitar dua petugas yang jaga. Saat pak petugas meminta foto, saya kasih fotoku, tiba-tiba Bapak petugas ngomel, “Mas fotonya jelek banget…hitam kayak gini, lain kali bawa foto yang lebih baik ya..” (kenyataannya memang demikian soalnya foto itu memang sudah lusuh, foto SMA yang sudah hitam kena tinta yang ada di dalam tas, oh ya… saya konfirmasi dulu yang jelek fotonya bukan orang yang ada di foto tersebut lho) kemudian saya jawab “Baik pak, kayaknya ini yang terakhir kok pak” (sambil menghayal lulus bulan Juli 2008).
Kemudia petugas yang satunya coba menenangkan suasana, “Sudahlah pak, jangan gitu ga enak lah…foto kan fotonya sendiri kenapa Bapak yang ngomel-ngomel”, bener juga kata bapak yang satu ini.
Akhirnya Pak petugas mulai tenang dan mengambil gunting untuk merapikan foto saya biar bagian tepi foto yang sudah lusuh tidak terlalu mencolok dan KSM pun dicetak.