61 th Bangsa Ini

Ternyata sebentar lagi dah mau tanggal 17 Agustus, yang waktu aku kecil dulu sangat menantikan hari kemerdekaan republik tercinta ini. Dulu HUT RI, mungkin sekarang juga masih, diperinganti dengan upacara bendera dan juga karnaval pembangunan. Dan yang membuat aku dan temen-teman dulu adalah karnaval. Karnaval ini diikuti oleh seluruh dusun di desaku, Matesih. Setiap dusun mengirimkan pesertanya lengkap dengan atribut masing-masing tidak ketinggalan aku dan teman-teman, dengan berbagi macam daya dan upaya kami memakai kostum yang ‘nyeleh’, dengan baju yang digunting-gunting, wajah dan rambut yang dicat berbagai macam warna, dan tidak ketinggalan senjata baik berupa pedang maupun senjata api dari M-16, Uzy sampai AK yang kami bikin sendiri dari kayu. Yah itulah sedikit kenanganku saat memperingati HUT kemerdekaan negeri ini.
Tapi bukan itu yang ingin saya kemukakan. Teringat bagaimana para pahlawan negeri ini dengan gigih mengorbankan jiwa dan raganya demi memperoleh kemerdekaan (menurut nenek dan juga buku-buku sejarah), yang merasa terdholimi oleh kaum penjajah. Tidaklah mungkin para pahlawan bangsa ini yang begitu rela dan tanpa pamrih melakukan pengabdian ini tanpa didasari kepercayaan yang kuat, kalau kita tidak mau bilang keimanaan. Dengan dasar inilah mereka berani mempertaruhkan jiwa dan raganya. Selalu ada dua hal yang akan menjadi pilihan mereka, merdeka dan hidup mulia atau pilihan kedua mati sebagai syuhada, ya prinsip-prinsip seperti inilah yang selalu berkobar dalam diri mereka. Dengan pekikan takbir mereka bertempur demi membebaskan negeri ini dari kedholiman bangsa barat. Kita lihat bagaimana Diponegoro, Imam Bonjol, Bung Tomo yang mengobarkan semangat para pejuang dengan pekikan takbir “Allahu Akbar”.
Semangat yang seperti inilah yang kian hari kian luntur, bangsa ini telah hilang jati dirinya dari bangsa yang senantiasa berjuang yang dilandasi keikhlasan dan keimanan kepada Allah menjadi bangsa yang berjuang demi hawa nafsu dan kepentinagan pribadi.
Malah yang kita temui sekarang ini, banyaknya pengkhianatan terhadap ketulusan dan keikhlasan para pahlawan dulu. Seolah-olah apa yang mereka perjuangkan menjadi sia-sia. Kita lihat sekarang ini masalah yang begitu marak diperbincangkan, pornografi. Dengan lantang para pengkhianat ini mengatasnamakan seni dan kebebasan. Apakah bangsa ini dibangun atas nama seni dan kebebasan?, tentu saja bukan. Apakah pekikan takbir sudah tergantikan dengan pekikan kebebasan atas nama seni?. Apa yang telah seni lakukan terhadap bangsa ini? Apakah seni ikut mendasari parapahlawan dalam berjuang demi bangsa ini? Tentu saja tidak. Mereka berjuang atas dasar keimanan dan kepercayaan yang kuat akan janji Tuhannya. Apakah sekarang ini setiap orang sudah menunggu giliran untuk berperan serta sebagaimana nenek moyangnya dahulu, tetapi dengan perbedaan 180 derajat. Yang dulu bersifat konstuktif dan sekarang bersifat destruktif.
Lalu apa yang seharusnya kita lakukan? Kita jadikan momen penting ini untuk kembali membangun bangsa ini dengan landasan sebagaimana para pahlawan berjuang dulu demi membebaskan bangsa ini dari kedholiman yaitu dengan keimanan dan pengabdian hanya kepada-Nya.
Dirgahayu Indonesiaku yang ke-61!.

Ditulis kira-kira 3 hari menjelang peringatan HUT RI ke-61 tanggal 17 Agustus 2006.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: