Tentang Hati

September 14, 2009

Hati dalam bahasa arab disebut qalbu, istilah Indonesianya kalbu, karena memang keadaanya yang sering berubah-ubah. Kata kolab itu mungkin juga memiliki kesamaan makna dari kata Qalbu ini. Iman seseorang itu bersemayam di hatinya.Seseorang bisa dalam keadaan iman pada pagi harinya dan berubah menjadi kafir pada sore harinya. Atau juga bisa sebaliknya, beriman pada sore harinya dan berubah menjadi kafir pada pagi hari.

Itulah inti dari salah satu kuliah subuh yang saya ikuti di Al Azhar beberapa waktu lalu. Ya Muqallibal Qulub Tsabbit Qalbi ‘ala Diinik (Wahai Yang memutarbalikkan hati, tetapkanlah hati ini berada di atas agama-Mu).

Advertisements

Antara Makhluk Jasmani dan Rohani

September 14, 2009

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang aneh / unik / makhluk yang berbentuk lain (khalqan akhar). Apabila ada dua golongan makluk di dunia ini, makluk jasmani dan rohani maka manusia bukanlah berada di salah-satu golongan ini. Bukan makhluk jasmani karena memang kenyataanya manusia sangat berbeda dengan binatang (makhluk jasmani). Bukan pula makhluk rohani karena kenyataanya memang sangat berbeda dengan malaikat (makhluk rohani).

Tapi yang jelas manusia itu adalah makhluk yang sangat hina. Manusia berasal dari nutfah, suatu materi yang sangat menjijikkan dan bahkan tidak ada manfaatnya. Setelah terlahir pun, tidak ada materi yang dihasilkan manusia yang memiliki manfaat. Semua zat yang dikeluarkan manusia tidak memiliki manfaat, bahkan memilik bau busuk. Jadi sangat tidak beralasan jika kita memuliakan manusia hanya karena bentuk fisiknya semata. Ketidak-manfaatan manusia ini juga berlanjut pada saat dia mati, apapun prestasi,kekayaan atau kedudukannya didunia, jika sudah mati maka ia hanya berupa seonggok daging yang membusuk.

Tapi pada kenyataanya manusia, bisa pada suatu saat memiliki kemuliaan lebih tinggi dari pada Malaikat, dan disisi yang lain bisa suatu saat lebih hina dari binatang. Kenapa manusia bisa lebih mulia dari malaikat, yang notabene adalah makhluk yang selau taat kepada perintah Tuhan? Karena manusia diberi akal dan hawa nafsu, sehingga manusia memiliki kemampuan memilih : memilih diantara alternatif-alternatif yang ada.

Sungguh suatu hal yang tidak adil jika seseorang harus disiksa di neraka karena melakukan pengingkaran kepada Tuhannya sedangkan hanya itulah pilihannya, dia tidak memiliki kemampuan untuk memilih untuk melakukan perbuatan lain, mana yang baik dan mana yang buruk.

Begitu pula sebaliknya sungguh tidak adil pula jika seseorang masuk surga, karena dia melakukan amal salih, sedangkan perbuatan itu merupakan satu-satunya pilihan yang bisa dia kerjaakan, dalam artian tidak ada pilihan yang lain.

Kira-kira hanya ini yang bisa ditulis karena manusia ini (penulis) tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan mendapati dihadapannya pengisi kultum sudah tidak ada lagi berdiri di mimbar, dan para jamaah masjid juga berbondong-bondong keluar dari masjid.  Alias tertidur pulas meskipun isi ceramah yang sungguh -sungguh menarik.  😦


Berdoa untuk Indonesia

September 14, 2009

Indonesia, dilanda berbagai macam bencana yang tidak kunjung reda. Silih berganti,dari satu bencana ke bencana yang lain. Sehingga membuat ragu apakah benar bencana yang selama ini terjadi merupakan  cobaan dari Tuhan.

Ramadhan segera berakhir, sudah memasuki fase 10 hari terakhir yang merupakan fase dimana Allah akan menurunkan malam Lailatul Qadr. Untuk itu sudah selayaknya kita meningkatkan amal ibadah kita.

Salah satu amalan itu adalah berdoa, menyangkut kondisi kita sekarang ini (Indonesia), berapa orang sih dari umat Islam yang berdoa untuk bangsa ini? Umumnya mereka berdoa untuk dirinya sendiri, untuk keselamatan dan kesejahteraan dirinya sendiri. Jikapun ada orang lain yang didoakan itupun sebatas orang tua, saudara, anak atau kerabat dekat lainnya.

Boleh jadi bencana yang terjadi di Indonesia ini terjadi karena keengganan kita yang selama ini selalu egois, bahkan dalam hal meminta atau berdoa kepada Tuhan demi keselamatan bangsa ini.


Makan Gado-Gado

March 27, 2009

Tadi siang saya makan gado-gado, terdiri dari sayuran, telur, tempe, tahu, sambel kacang dan tentu saja lontong. Saya ‘sengaja’ memilih menu ini karena konon sayuran sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Sendok pertama, kedua, ketiga dan seterusnya sampai ke mulut dan saya telan dengan ‘sengaja’. Dengan ‘sengaja’ saya mengahancurkan makanan di mulut kemudian menelannya. Saat dikunyah ternyata makanan yang saya makan bercampur dengan air liur yang mengandung enzim ptyalin.

Kemudian makanan saya sampai lambung, entah apa yang terjadi di lambung saya, yang jelas saya tidak bisa mengendalikan proses yang terjadi di sana. Telur, tempe dan tahu yang saya makan dicerna oleh pepsin. Bagaimana tubuh saya tahu kalo telur, tempe dan tahu tadi harus di cerna oleh pepsin, padahal saya tidak memerintahkannya. Sama halnya dengan karbohidat dan lemak yang terkandung dalam makanan saya, semuanya dicerna di dalam lambung. Pada saat saya tidurpun. Makanan tadi tetap dicerna oleh tubuh saya.

Kemudian makanan yg telah melewati berbagai proses tadi lewat usus halus. Di sini dengan tidak sengaja lagi ”karena pada saat itu saya sudah selesai makan dan kembali kerja”, zat-zat makanan diserap oleh tubuh. Kemudian lewat di usus besar, konon disini juga masih terjadi penyerapan makanan.

Postingan ini sengaja saya buat untuk mengomentari ”karena saya berpikir maka saya ada” dan untuk mengingatkan saya ternyata kekuatan akal pikiran saya ini terbatas, bahkan untuk mengendalikan tubuh saya sendiri saja tidak bisa.


Comfort Zone

March 27, 2009

Sudah tiga bulan ini saya tinggal di Jakarta. Ngupoyo upo..sambil belajar tentunya. Sampai saat ini semuanya lancar-lancar saja bahkan sangat lancar. Saya tinggal di Kuningan dekat Masjdi Al Mughni, Gatsu. Di sebuah kos-kosan yang lumayan deket dengan kantor, jalan ga nyampe 10 menit.

Saya sedikit cerita tentang kos-kosan ini, saya kos di lantai 2 tepat di lantai 1 di bagian depan menghadap jalan ada tempat laundry baju, yang dengan ikhlas menyucikan baju saya dengan imbalan rupiah tentunya. So kebutuhan nyuci baju terpenuhi.

habitatku

Habitatku

Di sebelah kiri kost (jarak 10 meter) ada warteg. Murah, bersih dan lumayan enak juga (opo to sing ra enak nggo aku iki) alhasil inilah tempat saya memenuhi kebutuhan pangan. Oh ya lupa sebelah kiri persis dengan kos, ada warung mie ayam. Lumayan sering juga ke sini. Sebelahnya lagi ada warung jualan pulsa, baru habis itu warteg yang saya maksud.

Di sebeleh kanan (15 meteran) ada warung Padang, kalo bosan ma warteg (kira-kira kapan ya bosan ma warteg), di sinilah tempat makan.

Kosanku di depannya ada jalan, Jalan Haji Mughni. Di seberangnya ada mesjid Al Mughni, yang setiap 5 kali sehari (kecuali Jumat, ada 6 kali) muadzin mengumandangkan adzan yang sering saya dengar saat saya ada di kosan, meskipun suaru adzan cukup keras, saya sering dan bahkan dengan sengaja meninggalkan shalat berjamaah (Astaghfirullah,,) apalagi saat Subuh. Coba saja mampir di masjid itu dan ikut shalat berjamaah. Saat shalat jamaah selesai ada beberapa makmum masbuk di sana. Kemungkinan besar saya adalah salah satu orangnya.

Oh ya,,kembali ke kamar kosku, di kamar yang cukup sempit itu saya sengaja menghidupkan wireless di laptop, scanning hotspot. Dan ternyata, ada akses point yang tepat sama saya saya menghidupkan wireless di kantor. Dalam artian hotspot kantor masih bisa nrempet ke dalam kamar saya. So..yang tadinya ol dengan layar hp kini bisa ol dengan screen lebih lebar. Meskipun loss-nya sampai 85 dB tapi masih cukup lumayanlah. Masih bisa connect FB dan Gtalk..dan jangan lupa video youtube pun masih bisa bergerak-gerak Hheeheeh

Saya coba melihat lebih jelas dimana letak kantor dari kos. Naik ke tempat jemuran oh ternyata deket juga kantorku dengan kosan (200 meter kayaknya). Hebat juga fasilitas hotspot di salah satu kantor penyedia layanan telekomunikasi terbesar di Indonesia itu.

Jadi ingat ‘’ejekan’” teman-teman tentang comfort zone. Kerja di kantor itu atau tinggal di kosan itu kah? Semoga pilihan yang kedua.


Indosat Wireless Innovation Contest 2008: mobiLive

December 21, 2008

Kompetisi wireless yang diadakan Indosat ini saya ikuti, Alhamdulillah masuk 10 besar untuk kategori pengembangan aplikasi. Saya membuat aplikasi dengan judul “mobiLive”. Dengan persiapan yang megap-megap saya akhirnya pulang dengan status sebagai contestan saja. Padahal jika dihitung-hitung lumayan juga hadiahnya. Juara pertama dapat 30jt + bb, yang kedua dapet 25 +bb, yang ketiga 20 + bb. Tentu saja tahun depan hadiah akan naik.
Ada beberapa hal yang ingin saya sharing seputar pelaksanaan lomba ini :
1. Jika mengajukan aplikasi usahakan untuk membentuk tim, yang ternyata diperbolehkan oleh penyelenggara. Meskipun hanya diijinkan satu orang saja yang akan melakukan presentasi di final. Dengan membentuk tim, akan lebih mudah dalam pembangunan prototype yang akan dipresentasikan di final. Masa antara pengumuman 10 besar dan presentasi final sekitar 2 minggu, jadi semakin banyak resource, pembangunan aplikasi juga harusnya semakin mudah. Selain itu akan ada banyak ide-ide creative yang muncul dari setiap anggota tim. Apalagi jika tim terdiri dari beberapa orang yang memiliki background keilmuan yang berbeda-beda.

2. Dalam hal presentasi. Latih presentasi, misalnya dengan membentuk forum yang terdiri dari teman-teman. Coba presentasi dihadapan mereka. Seolah-olah teman kita tadi adalah juri IWIC. Biarkan teman-teman kita tadi bertanya untuk setiap aspek dari aplikasi. Selain akan melatih kita dalam hal presentasi, kita juga akan memperoleh masukan dari teman-teman kita tersebut. Jika mau lebih ekstrem lagi cari tahu tentang siapa yang menjadi juri. Mengenai latar belakang, background keilmuan, atau mungkin organisasi dimana juri tersebut bernaung. Pertanyaan memiliki korelasi dengan latar belakang penanya. Ada beberapa anggota juri yang tiap tahun kemungkinan sama. Pertanyaan juga mungkin sama. Ada pertanyaan yang kurang dipersiapkan jawabnya oleh peserta, yakni tentang aspek bisnis dari aplikasi. Coba gali lebih dalam mengenai aspek bisnis dari aplikasi yang akan kita bangun.

mobilive-iwic-presentation


Solusi Kelangkaan Pupuk

December 21, 2008

Alhamdullillah bisa satu minggu liburan pulang kampung. Seperti biasa setiap pulang kampung pasti ada saja cerita-cerita baru yang saya dapatkan. Pernah ada tentang dukungan partai Islam kepada (bu)pati, kasus terbunuhnya seorang (bos) preman hanya dengan satu sabetan penjalin, dan yang terakhir ini tentang kasus kelangkaan pupuk. Sebenarnya setiap kasus tadi bisa dijabarkan panjang lebar dalam tulisan blog.

Kali ini akan dibahas kelangkaan pupuk yang terjadi di daerahku, Karanganyar. Pupuk menjadi penting pada masa awal tanam padi bagi para petani. Jadi sebenarnya kebutuhan pupuk dapat diramalkan (demand forcasting) sebelumnya baik dari segi waktu maupun kuantitas, hanya waktu-waktu tertentu saja para petani ini membutuhkan pupuk, maupun dari segi kuantitas pupuk yang dibutuhkan karena data mengenai luas lahan pertanian tidak mengalami perubahan drastis dari tahun ke tahun. Karena menyangkut hajat hidup orang banyak, pemerintah turut campur dalam menangani pemenuhan kebutuhan pupuk, dari fase produksi sampai distribusi ke petani di lakukan dan diawasi oleh pemerintah.

Namun ada saja kejadian aneh, sebagai contoh pemerintah telah mengumumkan bahwa harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi jenis urea adalah Rp. 65.000 per kuintal, jadi seharusnya petani dapat memperoleh urea dengan harga maksimal Rp. 65.000,00 namun kenyataan di lapangan harga yang ditanggung oleh petani bisa mencapai Rp. 120.000, itupun masih langka alias sulit memperolehnya. Kemanakah larinya Rp. 55.000?
Menurut beberapa sumber, hal ini dikarenakan adanya persekongkolan antara penyalur pupuk dari pemerintah ke toko pengecer pupuk. Mereka inilah yang paling banyak mendapatkan untung. Mereka bekerja sama sehingga pupuk-pupuk yang seharusnya di distribusikan ke petani, dapat ditimbun sehingga pupuk menjadi langka di kalangan petani. Alhasil mereka dapat menaikkan harga sampai menembus angka Rp. 120.000.

Petani tidak punya pilihan selain ikut membeli pupuk tadi meskipun dengan harga tinggi. Petani sulit menyampaikan keluhannya karena keterbatasan akses ke pihak yang bertanggung jawab, dalam hal ini pemerintah. Sehingga meskipun harga pupuk dipermainkan mereka tidak bisa berbuat banyak.
Sebuah sarana yang mudah dan efektif dalam menampung aspirasi dan keluhan dari para petani ini tentu akan menjadi suatu hal yang sangat membantu para petani. IT, merupakan salah satu solusi yang terbukti ampuh dalam menangani permasalahan supply chain. Kesuksesan pemanfaatan IT di berbagai produk seperti Wal-Mart, P&G , Coca Cola dan perusahaan-perusahaan lainnya adalah salah satu buktinya. Sehingga kesuksesan dalam menangani supply chain pupuk juga besar.
Bagi para petani, perangkat IT yang paling mudah mereka jangkau adalah perangkat mobile (hand phone) mengingat penetrasi dari industry telekomuniskasi di Indonesia yang terus meningkat bahkan perkembangannya mencapai 50 %. Sehingga keterjangkauan petani terhapap perangkat ini juga bisa dikatakan cukup tinggi.

Pemerintah dapat menerapkan sebuah aplikasi SMS Center yang dapat dimanfaatkan oleh para petani dalam menyampaikan keluhan. Misalnya jika terjadi kelangkaan pupuk, petani dapat menyampaikan dalam format SMS. Pesan SMS ini dapat diolah sehingga dapat dikelompokkan berdasarkan tempat atau daerah asal dari pengirim, maupun permasalahan yagn dihadapi. Kemudiah hasil dari pengolahan informasi ini dapat dipublikasikan sehingga dapat dijadikan sebagai bukti jika terdapat suatu permasalahan atau pelanggaran yang dilalukan baik oleh pejabat pemerintah maupun oleh pengecer. Dengan system informasi inilah transparansi dapat diwujudkan.

Sebenarnya tentang supply chain pupuk ini permasalahan utamanya adalah ketidakjururan. Oknum-oknum ini secara sengaja menimbun pupuk di gudang secara besar-besarang. Dengan informasi yang dikirimkan oleh petani ada beberapa keuntungan yang didapatkan :
1. Pihak yang bertanggungjawab (pemerintah) dapat langsung mengawasi (control) terhadap penyebaran pupuk. Hal in dapat dilihat dari pesan yang diperoleh dari petani
2. Lembaga-lembaga yang berkepentigan di bidang pertaniaan, misalnya HKTI dapat memperoleh informasi yang mengenai penyelewengan-penyelewenangan, informasi-informasi seperti ini tentu akan diproses oleh lembaga-lembaga tersebut.
3. Budaya transparansi, dimana setiap orang mendapatkan informasi yang sama berdasarkan fakta di lapangan.
4. Membangun masyarakat Indonesia yang terbiasa dengan budaya IT dan transparansi.

Bersambung…